Belajar di Guangzhou

Belajar di Guangzhou

Fenessa Suharto, Jinan University

Belajar di luar negeri memang adalah kesempatan yang tidak didapat oleh setiap orang. Saya adalah orang yang sangat beruntung dapat meneruskan studi kuliah saya bukan hanya di Beijing, tetapi juga di Guangzhou. Oleh sebab itu,saya merasa sangat bersyukur.

Fenessa Saya meneruskan studi sastra mandarin saya di Jinan University. Saya merasa pilihan saya untuk belajar di Jinan University adalah pilihan yang tepat. Berbeda dengan sekolah di Beijing yang termasuk sepi dan tidak terlalu memiliki banyak murid, di Jinan University dapat ditemukan banyak mahasiswa luar negeri yang belajar disini. Kehidupan kuliah saya setiap hari sangat mengasyikkan. Saya memiliki teman dari berbagai negara, dan berteman dengan mereka sungguh membuat mata saya terbuka akan hal-hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Misalkan, di Indonesia pada umumnya kita hanya berjabat tangan saat berpisahan, tetapi teman-teman saya yang berasal dari barat mencium pipi saat berpisahan. Memang saya sudah tahu sejak dulu kalau orang barat  saling mencium pipi lawan bicaranya, lelaki maupun perempuan, saat bertemu maupun saat berpisahan, tetapi tetap saja membuat saya terkejut saat saya secara langsung melihatnya.

Di Guangzhou, saya berpatisipasi di dalam banyak organisasi-organisasi yang ada di sekolah. Sekarang, saya menjabat sebagai angggota di dalam seksi seni dan kebudayaan organisasi siswa sastra mandarin. Bukan hanya itu, saya juga berpartisipasi dalam klub tarian tradisional Indonesia dan sering kali diundang untuk mengisi acara-acara yang diadakan di Guangzhou. Saya merasa kehidupan kuliah saya di Guangzhou adalah masa-masa yang pasti akan saya rindukan nantinya.

Guangzhou adalah sebuah kota yang indah. Guangzhou juga memiliki julukan kota “Surga Kuliner”. Jika anda datang ke Guangzhou,bukan hanya dapat mencicipi masakan China, tapi juga dapat mencicipi masakan dari berbagai negara. Disini terdapat banyak sekali berbagai macam rumah makan dan restoran. Ada masakan Indonesia, Thailand, Jepang, Korea, Colombia, Mexico, dan lain-lain yang dijamin akan memuaskan lidah kita.

Berbeda dengan orang-orang di Beijing, orang-orang di Guangzhou lebih ramah. Mereka lebih sopan dan lebih bersih. Jika biasanya toilet di Beijing kotor, tidak demikian dengan toilet Guangzhou.Toilet di Guangzhou bersih dan rapi. Karena itu saya merasa sangat senang.

Jika anda juga senang untuk berbelanja maka Guangzhou adalah tempatnya. Barang-barang yang dijual di Guangzhou rata-rata lebih murah dari tempat lainnya. Biasanya di hari libur, saya dan teman saya akan pergi ke Beijinglu dan Shangxiajiulu untuk berbelanja disana. Tetapi kami terkadang juga pergi ke pusat perbelanjaan seperti Fashion Tianhe untuk mencuci mata.

Indonesian students Di Guangzhou saya bukan hanya memiliki banyak teman yang berasal dari Indonesia, tapi saya juga memiliki sahabat karib seorang yang berasal dari Colombia yang juga merupakan teman sekamar saya. Pada awalnya kami memang kurang cocok, karena budaya barat dan budaya asia memiliki perbedaan, terutama selera humor kami. Tetapi setelah sekian waktu, akhirnya kami pun menjadi teman karib. Hampir semuanya kami lakukan bersama, dari berolahraga, menonton film, belajar, pergi berbelanja, dan lain-lain. Saya sangat bersyukur memiliki teman yang bergitu mengerti dan memahami saya.

Guru-guru di Guangzhou memang tidak dekat dengan setiap murid seperti guru-guru yang pernah mengajar saya di Beijing dulu. Tetapi, guru-guru disini sangat unik dan mengasyikkan. Salah satu guru favorit saya adalah guru pelajaran membaca yang bernama Liu Wenhui. Secara jujur saya katakan, sebenarnya saya tidak begitu gemar pelajaran membaca. Karena, bacaan yang biasanya diberikan sangat monoton dan sangat membosankan. Tetapi beliau membuat pelajaran membaca sangat mengasyikkan. Ia memilih bacaan-bacaan seperti: “Pria dan Wanita”, “mengapa kita harus belajar”, ”Berharganya Waktu”, dan lain-lain. Bacaan-bacaan ini bukan hanya dapat menambah kemampuan saya dalam bahasa mandarin, meluaskan pandangan dan cara berpikir saya, tetapi juga asyik untuk dibaca.

Tetapi belajar di luar negeri juga memiliki banyak kesulitannya tersendiri. Salah satu kesulitan yang paling sulit untuk saya atasi adalah rasa rindu saya akan rumah dan keluarga. Saya adalah gadis yang suka berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Berpisah dengan keluarga untuk waktu yang lama adalah hal sulit untuk saya. Karena saya terbiasa hidup dikelilingi oleh keluarga. Tetapi saya percaya untuk setiap hal ada masanya tersendiri. Ada saat untuk menanam, ada saat untuk menuai. Demikian juga ada saat untuk berpisah dan ada saat untuk berkumpul. Tetapi, untungnya saya memiliki teman-teman yang selalu menghibur dan menemani saya disaat keluarga saya tidak ada langsung di sisi saya. Belajar di Guangzhou adalah hal yang menyenangkan, dan akan menjadi bagian dari hidup saya yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.