Nama saya Matthew Sugiarto

Nama saya Matthew Sugiarto

Nama saya Matthew Sugiarto, saya mengambil studi Master jurusan bisnis di University of Greenwich. Awalnya saya berpikiran hanya mengambil studi di Indonesia saja, tetapi setelah mengetahui beberapa limitasi yang ada di Indonesia, khususnya masalah komunikasi dan budaya, saya meniatkan diri untuk mengambil studi di luar negeri. Komunikasi dan budaya yang saya maksud adalah kecakapan komunikasi yang dibutuhkan ketika berhadapan dengan orang lain. Bertahun-tahun tinggal di Indonesia tentunya kita setidaknya otomatis tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang lain atau orang yang mempunyai budaya dari wilayah Indonesia lain. Tetapi bagaimana dengan budaya dari luar negeri?

Ini merupakan alasan pendorong utama mengapa saya mengambil studi lanjut ke luar negeri. Mampu berkomunikasi memang menjadi syarat utama dalam bidang apapun, tetapi mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami budaya dari negara yang berbeda merupakan hal yang lebih penting. Karena padatnya tugas yang ada, jujur saya jarang keluar dari tempat tinggal saya. Tetapi saya berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan dan seminar-seminar yang ada untuk dapat mengenal orang-orang dari negara lainnya.

Yang paling saya suka adalah suasana lingkungan dan iklimnya. Menurut saya pas sekali untuk menjadi tempat belajar mengajar ataupun hanya duduk mengobrol di sebuah kafe. Semua hal yang berbeda dari Indonesia ini tentunya menarik sekali, karena semua hal itu belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Kebetulan juga hobi saya ada fotografi, street photography. Jadi di kota-kota besar di Indonesia. Tipe fotografi ini masih bisa dibilang belum umum, beberapa orang akan menganggap aneh, bahkan memungkinkan sekali untuk marah. Lain halnya ketika kita pergi ke tempat wisata di Indonesia, orang-orang yang berada disana lebih terbuka karena sudah terbiasa dengan pengunjung wisata yang datang untuk mengambil foto. Perbandingannya di luar negeri? Sikap orang-orang berbeda total. Mereka lebih mau menerima dan memahami. Tidak kolot. Jadi untuk mengisi hobi saya, London memang menjadi tempat yang sangat menarik. Tempat keramaian-keramaian yang mempunyai suasana khas menjadi tempat berpergian saya pada malam hari.

Kalau sudah bertempat tinggal di London, tidak lupa juga menyempatkan diri untuk menonton pertandingan sepak bola. Walaupun saya juga tidak seberapa hobi menonton, tetapi menonton pertandingan secara live merupakan pengalaman yang asyik dan membuat saya menjadi ketagihan.

1

Kemudian bagaimana tentang orang-orang disana? Sebagai orang Indonesia, mungkin kita sudah terbiasa dengan perasaan malu, takut jika nanti ada hal yang tidak sesuai keinginan kita, kita terbiasa menutup diri, ataupun takut jika orang lain tersinggung. Tapi disini, semua sangat terbuka. Orang-orang berbicara dan menyampaikan pesan sesuai dengan fakta yang ada. Tidak ada rasa tersinggung ataupun malu, karena memang yang dibicarakan adalah fakta yang asli.

2

Jadi kita harus pintar dalam mempelajari kebiasaan-kebiasaan lokal, karena kita adalah pendatang. Jangan sampai karena perbincangan biasa, kita merasa diejek atau mungkin merasakan hal-hal lain. Memang ini pasti terjadi, alamiah sekali karena budaya yang ada sangat berbeda dengan Indonesia. Setelah mempelajari budaya lokal, baru kita dapat berkomunikasi dengan orang dari negara lainnya.

Banyak hal menarik yang akan menarik perhatian kita, tentunya karena semua itu adalah hal-hal baru yang tidak ditemukan di Indonesia. Jangan lupa juga untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Biasanya murid-murid dari negara tertentu akan membentuk kelompok yang berisikan murid-murid dari negara itu saja. Memang ini terlihat otomatis dan sangat nyaman pada awalnya. Tetapi ketika membutuhkan sudut pandang lain, tiba-tiba kelompok tersebut menjadi tidak kreatif. Hal ini dikarenakan ketika orang yang hidup di lokasi yang sama, mempunyai pengalaman yang hampir sama juga. Jadi kemungkinan sudut pandang yang berbeda menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan bergabung dengan kelompok yang berisikan murid-murid dari negara lainnnya. Semakin berbeda, semakin bagus. Karena hal tersebut akan menghasilkan argumen-argumen yang mendorong kita untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda ketika kesepakatan berhasil tercapai. Sekian pengalaman saya.