Sebuah Impian yang Jadi Nyata

Pada tahun 2010 yang lalu, terinspirasi oleh orang-orang di sekitar saya yang mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri orang lain, saya pun menuliskan dalam daftar impian saya untuk mengikuti jejak mereka. Orang-orang bilang jika kita menuliskan impian kita dan memajangnya di tempat yang sering kita lihat maka impian tersebut akan lebih mudah tercapai. Menurut saya cukup masuk akal karena dengan begitu kita akan terus mengingat impian kita dan berusaha untuk mewujudkannya.

Semenjak saat itu, saya mencari berbagai informasi mengenai program internship atau konferensi ke luar negeri. Beberapa kali saya mendaftar untuk mengikuti konferensi internasional dengan mengirimkan sejumlah artikel ilmiah, berharap saya bisa mewujudkan impian saya melalui hal tersebut. Dua kali saya diterima untuk mengikuti konferensi internasional di Korea Selatan dan Jepang, namun terkendala masalah sponsor sehingga membuat saya gagal untuk mengikutinya.

Pada tahun 2011, bermodalkan informasi dari kakak kelas saya yang mendapat beasiswa IELSP (Indonesian English Language Study Program) untuk belajar bahasa Inggris di Amerika, saya pun mengikuti jejaknya dengan mencoba mendaftar program tersebut. Setelah melalui berbagai macam proses dan penantian yang cukup lama, akhir Desember 2011 saya mendapat sebuah kabar gembira dengan diterimanya saya dalam program tersebut.

Bulan Maret 2012, saat yang ditunggu pun tiba. Pada tanggal 5 Maret saya berangkat menuju Arizona, USA. Sebagai pengalaman pertama saya ke luar negeri tentu saja sangat membuat saya tertarik dan senang, sekaligus sedikit menyeramkan karena harus melakukan perjalanan yang begitu panjang dengan pesawat terbang. Saat itu adalah kedua kalinya saya menaiki pesawat terbang yang mana sebelumnya saya hanya melakukan perjalanan 2 jam dari Jakarta ke Makassar.

Tiba di Arizona, saya dijemput oleh warga asli sana yang menjadi “host family” saya. Pengalaman untuk tinggal dalam lingkungan keluarga yang berbeda kebudayaan sungguh menyenangkan. Kami bertukar pengetahuan terkait kebudayaan masing-masing. Mereka sangat menerima dan menghormati perbedaan yang ada.

Selama delapan minggu di Arizona, saya mengikuti program “American English Course Program” atau AECP yang diadakan oleh Arizona State University. Program tersebut menyediakan pembelajaran bahasa Inggris-Amerika sebagai bahasa kedua untuk mahasiswa asing. Selain pembelajaran dalam kelas, mereka juga mengenalkan budaya, sejarah, serta tempat wisata yang ada di sana melalui program study tour, English club, dan lain-lain. Mahasiswa asing yang mengikuti program tersebut berasal dari berbagai negara seperti Korea, Jepang, Arab Saudi, China, dan lain-lain.

Sebelum memulai program, mereka mengadakan tes untuk mengetahui level kelas yang cocok sesuai kemampuan calon peserta program. Ada enam level kelas, yaitu Basic 1, Basic 2, Intermediate 1, Intermediate 2, Advance 1, dan Advance 2. Saya mendapat kelas Intermediate 2 dan satu kelas dengan beberapa orang Asia lainnya. Ada dua kelas wajib yang harus diikuti yaitu kelas Writing dan kelas Listening and Speaking. Selain itu, peserta program diwajibkan untuk memilih satu kelas pilihan yaitu kelas TOEFL preparation, kelas pronunciation, dan kelas social community. Saya mengambil kelas pronunciation karena ingin memperbaiki intonasi dan cara saya berucap dalam bahasa Inggris. Kegiatan pembelajaran di kelas hanya di lakukan selama hari Senin hingga Jumat.

Kelas Intermediate 2 yang saya ikuti

Kelas Intermediate 2 yang saya ikuti

Pada hari tertentu setiap minggunya diadakan kegiatan Theater club. Kegiatan ini membahas dialog yang ada pada film tertentu. Satu film untuk 8 minggu program. Saat itu film yang dipilih adalah Spiderman. Kami mengulas dialog tersebut dengan cara mendengarkan bagaimana cara mereka berucap, memahami maksdu dari dialog tersebut, dan mencoba untuk mengucapkannya kembali sesuai intonasi yang seharusnya.

Selain kegiatan Theater club, ada juga kegiatan lain berupa Conversation club dan Conversation group. Kegiatan Conversation club diadakan setiap hari Rabu sore, kegiatan tersebut hanya berisi diskusi dan bincang-bincang ringan dengan para peserta program yang lain dan juga mahasiswa-mahasiswa Arizona State University yang menjadi volunteer untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini lebih terlihat seperti pesta sederhana karena terdapat kue serta minuman di setiap acaranya. Conversation group merupakan kelompok kecil yang terdiri dari beberapa peserta program dan satu group leader yang merupakan mahasiswa di sana (English native speaker) yang berkumpul pada hari tertentu untuk berbincang-bincang mengenai topik tertentu. Program-program yang diadakan tersebut sangat membantu saya dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Setiap hari sabtu, AECP mengadakan berbagai macam program rekreasi untuk refreshing maupun mengenal budaya di sana. Salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah kunjungan ke Arizona Musical Instrument Museum yang merupakan museum alat-alat musik terbesar di dunia. Terdapat beragam alat musik dari seluruh dunia di sana. Salah satu yang membanggakan bagi saya adalah terdapat satu set lengkap gamelan Indonesia pada salah satu area yang cukup besar di museum tersebut. Selain mengunjungi museum, pengalaman lain yang membuat saya terkesan adalah mengunjungi salah satu keajaiban dunia Grand Canyon. Hamparan tebing indah yang benar-benar mengesankan.

Rian blog image 2

Satu set gamelan Indonesia di Arizona Musical Instrument Museum

Grand canyon

Grand canyon

Tanpa terasa program selama delapan minggu tersebut pun berlalu dengan begitu cepat. Pengalaman singkat namun penuh manfaat tersebut telah membuat saya bertekad untuk mengikuti berbagai program lain yang bisa membawa saya untuk keliling dunia dan mengenal berbagai macam budaya dan karakter dari seluruh dunia.

Penulis: Rian Triana (riantriana@aol.com)